Fixed Income Weekly Report: Repricing Future Risks
Oleh Tim Riset Panin SekuritasDi sisi global, yield curve UST mengalami bull steepening pekan lalu seiring divergensi respons pasar terhadap keputusan hold rate oleh The Fed, BoJ, dan ECB serta berlanjutnya rotasi flight-to-safety seiring melemahnya pasar saham AS imbas rilis earnings sektor teknologi.Sepekan kedepan, cermati perkembangan proses diplomasi pada isu Timur Tengah dan perkembangan midterm election AS pada 3-Nov-26 yang berpotensi menjaga volatilitas UST. Di sisi domestik, yield SBN 10-Yr menembus 7,7%, tertinggi sejak Mar-20, dengan permintaan lelang SBN pekan lalu hanya mencapai 1,04x target indikatif, mencerminkan berlanjutnya spillover sentimen MSCI ke pasar obligasi. Pasar SBN juga masih menghadapi tekanan seiring pasar tengah pricing terhadap forward-looking risks. Hanya saja, spread yield korporasi-SBN yang relatif stabil mengindikasikan repricing masih didominasi risiko sovereign dan Rupiah, bukan deteriorasi risiko kredit secara menyeluruh. Tercatat aliran modal asing di pasar fixed incomeperiode 26â??30-Okt-26 dengan total jual neto Rp6,84 triliun (vs jual neto Rp11,97 triliun). Selain itu, pada penutupan Jumat lalu, nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp18.147/USD (vs Rp18.080/USD), posisi yield SBN 10 tahun naik ke 7,73% (vs 7,43%) dan CDS Indonesia 5Yr flat di 105,07bps (vs 105,88bps).
Sikap hawkish bank sentral global masih membayangi pasar UST meski rotasi flight-to-safety kembali menopang reli obligasi. Yield curve UST mengalami bull steepening pekan lalu seiring divergensi respons pasar terhadap keputusan FOMC Okt-26. The Fed mempertahankan suku bunga di 3,75â??4,00% dengan voting 10â??2, seiring dua pejabat mendukung kenaikan 25bps, sekaligus meningkatkan asesmen aktivitas ekonomi dari â??solidâ?� menjadi â??strongâ?� yang mengindikasikan sikap hawkish. Sejalan dengan itu, ECB dan BoJ turut mempertahankan suku bunga setelah pengetatan serentak pada Sep-26, mengindikasikan sikap wait-and-see di tengah tingginya biaya energi. Walau sempat mencatatkan kenaikan, yield UST 10-Yr kembali turun setelah rotasi flight-to-safety kembali terjadi seiring rilis earnings sektor teknologi di pasar saham AS yang kurang memuaskan. Namun, perlu dicermati bahwa inflasi inti PCE AS per Sep-26 juga masih relatif tinggi di +3,1% YoY (prev: +3,0% YoY; cons: +3,1% YoY) mengindikasikan sikap The Fed yang akan tetap mempertahankan suku bunganya higher-for-longer, dengan pasar masih memperkirakan peluang rate hike The Fed pada FOMC Des-26 sekitar 70,9%. Sepekan kedepan, cermati perkembangan proses diplomasi pada isu Timur Tengah dan perkembangan midterm election AS pada 3-Nov-26 yang berpotensi menjaga volatilitas UST, khususnya tenor panjang.
Tekanan sell-off SBN berlanjut seiring meningkatnya risk premium domestik di tengah ketidakpastian pasar saham dan prospek pelebaran defisit fiskal. Yield SBN 10-Yr menembus 7,7%, tertinggi sejak Mar-20, dengan permintaan lelang SBN pekan lalu hanya mencapai 1,04x target indikatif. Tekanan ini mencerminkan berlanjutnya spillover sentimen MSCI ke pasar obligasi meski BI telah memperluas bauran kebijakan stabilisasi. Meski inflasi IHK masih terkendali di bawah target atas BI +3,5% YoY dan surplus perdagangan relatif solid, pasar SBN masih menghadapi tekanan seiring pasar tengah pricing terhadap forward-looking risks, termasuk 1) risiko pelebaran defisit fiskal akibat akselerasi belanja akhir tahun yang diiringi tekanan subsidi energi, dengan harga ICP masih +34% di atas asumsi APBN 2026, serta 2) ketidakpastian foreign flow selama periode konsultasi MSCI turut mempertahankan premi risiko aset domestik. Hanya saja, spread yield korporasi-SBN yang relatif stabil mengindikasikan repricing masih didominasi risiko sovereign dan Rupiah, bukan deteriorasi risiko kredit secara menyeluruh. Dengan pertumbuhan PDB 2H26 yang diperkirakan melambat namun tetap tumbuh solid di atas +5% YoY serta moderasi M2 berpotensi membatasi penurunan yield SBN secara drastis, sementara kemajuan reformasi pasar saham dapat membantu meredakan tekanan sentimen jangka pendek. Tercatat aliran modal asing di pasar fixed income periode 26â??30-Okt-26 dengan total jual neto Rp6,84 triliun (vs jual neto Rp11,97 triliun) dengan perincian yakni: net outflow Rp5,74 triliun pada pasar SBN dan net outflow Rp6,54 triliun di pasar SRBI. Selain itu, pada penutupan pekan lalu, nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp18.147/USD (vs Rp18.080/USD), posisi yield SBN 10 tahun naik ke 7,73% (vs 7,43%) dan CDS Indonesia 5Yr flat di 105,07bps (vs 105,88bps).
Sementara itu berita dari surat utang dalam negeri lainnya sebagai berikut:
- â� Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menyelesaikan lelang SBN Ritel seri SBR015 dengan total penjualan Rp17,01 triliun (target: Rp20 triliun). Penerbitannya terdiri dari dua seri, yakni tenor 2 tahun (Rp13,6 triliun, kupon 6,75%/p.a., 1,13x dari target) dan 4 tahun (Rp3,4 triliun, kupon 6,85%/p.a., 0,43x dari target.).
- â� PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) membatalkan penawaran obligasi valas USD-denominated yang semula direncanakan pada 26-Okt-26. Obligasi valas tersebut sebelumnya direncanakan untuk tenor 3-Yr dan listing di SGX Singapura.
- â� PT Bank Permata Tbk (BNLI) mendapatkan afirmasi rating idAAA dengan stable outlook oleh Pefindo. Rating ini utamanya mencerminkan dukungan yang sangat kuat dari pemegang saham pengendalinya, Bangkok Bank. Profil kredit dan permodalan juga dinilai masih relatif kuat, meski dibatasi oleh ketatnya persaingan di industri perbankan.
Full Report: pans.id/WeeklyFixedIncome_2-Nov-26

