Kembali
Result Update: ISAT (BUY - TP: Rp1.800): Donâ??t d
Oleh Tim Riset Panin SekuritasKinerja keuangan ISAT yang kurang positif di 3Q26 disebabkan oleh biaya lelang frekuensi bulan Juli 2026 lalu, biaya pembelian GPU untuk bisnis AI perusahaan, selain itu juga ada one-off pemberian bonus karyawan yang meningkat +42% YoY. Namun disisi lain, pendapatan juga melambat karena jumlah subscribers yang turun -3,3% YoY menjadi 91,5 juta akibat regulasi Komdigi terkait registrasi biometrik, dan pembatasan ketat maksimal kepemilikan nomor per identitas. Data traffic juga melambat -1% QoQ akibat seasonality, namun ARPU tetap di level Rp46.000 dan pendapatan AI cloud Indosat masih bertumbuh. Pendapatan AI cloud per 9M26 tercatat USD50 juta (target 2026F: USD100 juta) dan pendapatan sudah terkontrak di 2027 sebesar USD300 juta. Kami menilai perlambatan kinerja ini bersifat sementara, mengingat bisnis AI dan frekuensi 5G perseroan belum sepenuhnya dimonetisasi. Perseroan juga cukup masif mengembangkan bisnis AI melalui Zankore dan Indosat Intelligence Suite yang akan berkontribusi pada 2028F. Kami merekomendasikan BUY untuk ISAT dengan target price Rp1.800 (implied EV/EBITDA: 3,6x di 2027F).
Kinerja ISAT melambat di 9M26. ISAT mencatatkan pendapatan di 3Q26 sebesar Rp15,1 triliun (-2,2% QoQ ; +7,4% YoY) membawa pendapatan kumulatif 9M26 menjadi Rp45,7 triliun (+11,1% YoY) hasil ini in-line dengan estimasi kami konsensus (PANS: 75,9%; Kons: 76,3%; rata-rata 5 tahun terakhir: 73,6%). Penurunan pendapatan di 3Q26 disebabkan oleh penurunan pendapatan seluler akibat konsolidasi kartu SIM pasca penerapan registrasi biometrik pada Jul-26. Hal ini membuat jumlah pelanggan ISAT turun menjadi 91,5 juta pelanggan (-2% QoQ; -3,3% YoY) yang mengurangi aktivasi SIM berkualitas rendah dan duplikat, manajemen berpandangan dampak biometrik ini akan bersifat jangka pendek dan menangkap sebagai peluang reformasi struktural yang positif untuk fokus pada pelanggan yang bernilai. Disisi lain seasonality 3Q biasanya lebih rendah akibat dampak normalisasi high base pasca lebaran dan pola liburan sekolah di bulan Juni, terbukti pertumbuhan trafik data di 3Q26 melambat ke 4,9 juta PB (-1,0% QoQ; +8,9% YoY) setara 14,8 juta PB di 9M26 (+16,0% YoY) disisi lain ARPU stabil di level Rp46.000 (+0% QoQ; +17,9% YoY).
Pendapatan MIDI & Jasa IT mendorong pertumbuhan. Pendapatan MIDI (FBB dan Jasa IT digital) tumbuh ke level Rp7,2 triliun di 9M26 (+6,6% QoQ; +18,5% YoY) dengan rincian pendapatan FBB sebesar Rp2,6 triliun (+16,7% YoY) dan Jasa IT sebesar Rp2,7 triliun (+37,5% YoY) didorong peningkatan pelanggan Home Broad Band (HBB) perseroan menjadi 446 ribu pelanggan (+21,1% YoY) dan pendapatan AI perseroan yang tercatat USD50 juta (1H26: USD33 juta; 2025: USD28 juta) dan target tahun 2026F sebesar ~USD100 juta.
Update perkembangan AI Indosat. Perseroan mengatakan pendapatan AI cloud yang dikontrak mencapai USD300 juta di tahun 2027. Disisi lain, terkait Zankore perseroan melakukan ekspansi mulai tahun 2027 dengan kapasitas AI cloud sebesar 200 MW yang ditargetkan beroperasi pada 1H27, perseroan juga baru saja meluncurkan Intelligence Suite bersama F5 di Okt-26 yang menyatukan lebih dari 300 model AI melalui platform token IOH dengan menawarkan ke perusahaan perbankan, asuransi, e-commerce, telko, dan Pemerintah dengan ditargetkan akan menghasilkan pendapatan USD100 juta pada tahun 2028 yang menawarkan EBITDA margin sekitar 70%.
EBITDA terdampak biaya spektrum. EBITDA tercatat Rp6,4 triliun di 3Q26 (-12,4% QoQ; -0,7% YoY) membawa EBITDA kumulatif 9M26 sebesar Rp21,1 triliun (+8,8% YoY) in-line (PANS: 74,4%; Kons: 73,7%; rata-rata 5 tahun: 73,4%). Penurunan EBITDA di 3Q26 disebabkan oleh biaya spektrum 2,6 GHz dan 700 Mhz yang perseroan menangkan pada Jul-26, biaya pelepasan Fiberco yang mendorong beban penyelenggaraan jasa telekomunikasi naik menjadi Rp19,4 triliun (+5,7% QoQ; +10,5% YoY) diikuti peningkatan beban karyawan menjadi Rp3,3 triliun (+16,8% QoQ; +42,2% YoY). Sementara itu, laba bersih di 3Q26 sebesar Rp613 miliar (-78,2% QoQ; -51,1% YoY) membawa laba bersih 9M26 menjadi Rp4,9 triliun (+37,2% YoY) karena one-off divestasi fiber aset perseroan kepada PT Nusantara Fiber Teknologi yang merupakan JV bersama Arsari Group, Northstar, dan ISAT. Aksi divestasi tersebut menghasilkan keuntungan one-off sebesar Rp1,5 triliun, sehingga laba bersih normalized ISAT berada di Rp3,8 triliun (+10,6% YoY) berada dibawah estimasi kami dan konsensus (PANS: 62,4%; Kons: 66,2%; rata-rata 5 tahun: 74,0%).
Masih merekomendasikan BUY untuk ISATdengan target price di Rp1.800 implied (EV/EBITDA 3,6x di 2027F) sebelumnya di Rp2.400 (EV/EBITDA 4,5x) akibat dampak aksi jual investor asing yang masif mendorong penurunan harga yang signifikan. Beberapa hal yang perlu dicermati: (1) dampak jangka pendek perolehan lelang frekuensi yang dapat meningkatkan biaya spektrum, meskipun dalam jangka panjang akan berdampak positif bagi kualitas pertumbuhan bisnis perseroan; (2) potensi penurunan subscribers seluler jangka pendek karena biometric, namun kami masih melihat prospek jangka panjang yang positif seperti; 3) EBITDA tetap tumbuh solid seiring komitmen peningkatan ARPU; (4) peningkatan jumlah subscribers FBB; (5) efek jangka panjang dari pengembangan bisnis AI.

