Company Update: TBIG (HOLD - TP: Rp1.200): A Giant
Oleh Tim Riset Panin SekuritasPertumbuhan bisnis TBIG masih cenderung flattish seiring konsolidasi perusahaan operator telekomunikasi, biaya frekuensi yang tinggi dan pelemahan daya beli secara tidak langsung berdampak pada pricing policy emiten menara yang cenderung melambat +0,5% YoY (2025: +1,3% YoY). Perusahaan diharuskan untuk terus menghasilkan pertumbuhan yang berarti, dengan upaya mengembangkan segmen fiber optik namun belum begitu signifikan (+6% YoY di 6M26) dan kontribusi nya yang masih minim (9% terhadap total pendapatan) belum dapat mendorong kinerja top line bahkan EBITDA perseroan yang melambat menjadi Rp2,9 triliun (-0,7% YoY). Dari sisi neraca perseroan mengalami perbaikan dengan net gearing 2,16x (6M25: 2,78x) seiring langkah TBIG untuk membayar beberapa kewajiban jangka pendek, namun angka ini masih lebih tinggi dibandingkan peers yang memiliki net gearing di level 1,05x. Seiring pertumbuhan bisnis yang melambat, serta tingkat utang yang tinggi, membuka peluang terjadinya merger antara perusahaan menara yang dapat mendorong pertumbuhan anorganic. Kami masih merekomendasikan HOLD untuk TBIG dengan target price Rp1.200 (implied EV/EBITDA: 9,8x di 2027F).
Debt overhang. Meskipun kualitas EBITDA TBIG kuat, tetapi leverage membatasi nilai ekuitas. TBIG menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan perusahaan dengan pertumbuhan rendah pada umumnya. Perseroan memiliki model bisnis infrastruktur dengan pendapatan berulang, margin EBITDA tinggi, dan kontrak sewa jangka panjang, tetapi tingkat leverage yang tinggi membuat sebagian besar arus kas operasional harus dialokasikan untuk membayar bunga, kewajiban utang, dan belanja modal. Per 6M26, TBIG membukukan pendapatan Rp3,46 triliun dan EBITDA Rp2,95 triliun, dengan margin EBITDA sebesar 85,3%. Namun, net debt mencapai Rp28,31 triliun, sehingga rasio net debt/annualized EBITDA berada di 4,9x. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun profitabilitas operasional masih kuat, ruang finansial untuk melakukan ekspansi agresif atau menghadapi penurunan permintaan relatif terbatas. Sehingga hal ini membuka peluang adanya konsolidasi bisnis.
Skema apa yang cocok untuk TBIG dan MTEL? Beberapa skema yang berpotensi; 1) Merger langsung, merupakan langkah yang menurut kami paling mungkin dilakukan dengan pertimbangan kebutuhan kas tidak begitu besar, integrasi bisnis juga tercapai, dan risiko leverage lebih dapat terkendali; 2) Share Swap juga dapat menjadi opsi, namun hal ini dapat meningkatkan risiko dari dilusi dan pengendalian saham. Kami mencermati jika terjadi merger dengan mekanisme MTO dalam waktu dekat ini, diasumsikan berdasarkan POJK harga acuan rata-rata 90 hari terakhir perdagangan TBIG di Rp1.420 maka keputusannya sangat tergantung harga beli (tabel 2). Namun jika belum memiliki posisi, dan asumsi jika merger terjadi menggunakan MTO maka harga TBIG saat ini (Rp1.090) cukup menarik dengan potensi gain ~30% menggunakan asumsi harga acuan di Rp1.420 per saham. Disisi lain, jika swap share kami menyarankan untuk tetap mengkonversi ke MTEL mengingat neraca perseroan yang kuat dan dividend yield yang cukup menarik 3,9% rata-rata 5 tahun terakhir.
Apakah rencana merger TBIG dengan MTEL opsi terbaik?. Berbagai sumber mengatakan ada rencana TBIG untuk merger dengan MTEL. Kami menilai merger ini cukup menarik karena kedua perusahaan memiliki aset menara yang sangat besar. Berdasarkan data 1H26, TBIG memiliki 25.280 sites dan 42.332 tenant, sedangkan MTEL memiliki skala aset menara yang lebih besar dengan 40.563 sites dan 63.866 tenant. Jika digabungkan maka total sites sebanyak 65.843 dan 106.198 tenant, jumlah ini menjadi yang paling besar dibandingkan pemain industri lainnya seperti TOWR 36.892 sites dan 61.038 tenants di urutan kedua, diikuti CENT dengan 11.288 sites dan 18.458 tenants. Namun concern terkait tenancy ratio MTEL akan meningkat menjadi 1,61x (sebelumnya: 1,57x), disisi lain bagi TBIG tenancy ratio menjadi turun dari sebelumnya di 1,67x.
Segmen fiber optik TBIG. Di luar bisnis menara, fiber optik berpotensi menjadi sumber pertumbuhan tambahan bagi TBIG di tengah perlambatan permintaan penyewaan menara. Pada 1H26, pendapatan fiber optik TBIG tercatat sebesar Rp325 miliar, tumbuh 6% YoY, meskipun pertumbuhannya melambat pada 2Q26. Disisi lain, pertumbuhan fixed wireless access (FWA) dan fixed broadband berbasis fiber to the home (FTTH) menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi industri infrastruktur telekomunikasi. Manfaatnya dapat muncul melalui tambahan penyewaan pada site eksisting, namun pertumbuhan pelanggan FWA tidak otomatis menghasilkan penambahan tenant menara karena operator dapat meningkatkan kapasitas melalui spektrum, konfigurasi radio, atau optimasi jaringan pada site yang sudah tersedia. Maka dari itu, evaluasi utilisasi jaringan, pendapatan per kilometer fiber, margin EBITDA, kebutuhan capex, serta waktu yang diperlukan untuk mencapai skala ekonomis.
Masih merekomendasikan HOLD untuk TBIGdengan target price di Rp1.200 (implied EV/EBITDA 9,8x di 2027F) yang kami turunkan dari Rp1.700 (EV/EBITDA: 10,9x). Beberapa yang perlu dicermati: (1) dampak konsolidasi industri telko masih terasa, (2) permintaan dari penyewaan segmen FWA belum berdampak signifikan, (3) perbaikan net gearing, namun perlu dicermati terkait dengan; (4) potensi merger dengan MTEL apabila terjadi merger, kami cenderung menginisiasi untuk mencermati MTEL yang punya neraca kuat, valuasi discount 7x EV/EBITDA serta rata-rata dividend yield 5Y sebesar 3,9% (TBIG: 2,61%).
Full report:
https://pans.id/CompanyUpdate_TBIG_2027

