Kembali
Result Snapshot 3Q26: NCKL: (BUY: Rp900): Earnings
Oleh Tim Riset Panin SekuritasEarnings: EBITDA di 3Q26 tercatat sebesar Rp2,6 triliun (-12,4% QoQ; -2,9% YoY) dengan 9M26 sebesar Rp7,2 triliun. Laba bersih NCKL di 3Q26 menjadi Rp2,9 triliun (-7,3% QoQ: +22,7% YoY) serta membawa kumulatif 9M26 menjadi Rp8,7 triliun (+34,8% YoY) atau in-line dengan estimasi kami dan konsensus (PANS: 80,2%; Cons: 76,0%; 5Y Avg: 78,3%). Kinerja yang kurang positif di 3Q26 terjadi seiring dengan penurunan mining dan HPAL sales volume, serta kenaikan overall cash cost akibat kenaikan harga BBM dan sulfur. Adapun, laba entitas asosiasi turun menjadi Rp1,1 triliun (-10,1% QoQ; +25,3% YoY) namun secara 9M26 tetap tinggi sebesar Rp4,4 triliun (+63,2% YoY) akibat output lebih tinggi dari KPS dan meningkatnya kepemilikan ONC.
Kinerja operasional: Penjualan bijih perseroan di 3Q26 turun menjadi 8,1 juta wmt (-8,7% QoQ; -8,7% YoY), namun sepanjang 9M26 tercatat naik menjadi 26,2 juta wmt (+23,1% YoY). Di sisi lain, penjualan HPAL di 3Q26 tercatat turun menjadi 26,3k ton (-1,2% QoQ; -23,8% YoY) dengan penjualan sepanjang 9M26 menjadi 85,6k ton (-14,3% YoY), dimana penurunan terjadi seiring dengan timing pengiriman. Adapun penjualan RKEF di 3Q26 tercatat menjadi 62,8k ton (+0,3% QoQ; +20,9% YoY) serta membawa sepanjang 9M26 menjadi 179k ton (+30,9% YoY) akibat selesainya ekspansi KPS Fase 3.
Outlook: Kami melihat selesainya pengembangan fase 3 KPS akan menambah kapasitas produksi menjadi 185 ribu ton. Di sisi lain, kami melihat potensi peningkatan efisiensi melalui penggunaan quicklime (ramp-up stage), 50MW steam power plant (4Q26), serta ekstraksi iron dari tailings (2027) untuk meningkatkan nilai tambah. Namun demikian, kami ingin menyoroti harga sulfur yang masih relatif tinggi sehingga berpotensi menekan cash cost perseroan tahun ini.
Kami masih merekomendasikan BUY untuk NCKL dengan target harga ke Rp900 (implied EV/EBITDA 5,6x di 2026F). Beberapa pertimbangan:
1) Telah selesainya ekspansi KPS fase 3 di 1H26 mencapai kapasitas 185 ribu ton dengan 12 lini produksi
2) peningkatan efisiensi biaya melalui CKM Quicklime Plant (sudah beroperasi), 50MW steam power plant (4Q26), dan iron extraction project (2027) yang menambah nilai dari tailings
3) Namun patut dicermati, downside risk volatilitas harga nikel, harga sulfur yang masih relatif tinggi berpotensi menekan cash cost, serta meningkatnya premi risiko untuk Indonesia pasca potensi downgrade ke stand-alone market.
Full Report:
https://pans.id/ResultSnapshotNCKL_3Q26

