Kembali
Result Snapshot 3Q26: KLBF (BUY - TP: Rp1.000): Ea
Oleh Tim Riset Panin SekuritasEarnings: KLBF mencatat kinerja yang relatif resilient, dengan membukukan laba bersih sebesar Rp817 miliar di 3Q26 (-8,2% QoQ; +24,5% YoY) dengan laba bersih kumulatif mencapai Rp2,7 triliun (+4% YoY), in-line estimasi kami, namun dibawah estimasi konsensus (PANS: 78%; Cons: 80,1%; rata-rata pasar 5 tahun: 73,2%) didukung performa topline yang solid (+11,5% YoY), utamanya dari segmen distribusi (+22% YoY; kontribusi: ~36%) serta optimalisasi biaya operasional dengan rasio opex/rev turun ke level 25,7% (9M25: 27,8%) di tengah tekanan biaya bahan baku akibat pelemahan Rupiah dan tensi geopolitik. Perlu dicermati bahwa perlambatan kuartalan lebih disebabkan oleh normalisasi penjualan khususnya segmen CH dan Nutrisi di channel distribusi, dimana manajemen belum melihat tanda pelemahan permintaan.
Key highlight: Kami menyoroti tren pemulihan marjin kotor di 3Q26 ke level 37,8% (2Q26: 36,8%; 3Q25: 39,3%), meski masih di bawah level tahun lalu. Perbaikan ini ditopang oleh harga API farmasi yang mulai stabil, serta harga bahan baku berbasis minyak yang meski masih tinggi namun tidak terlalu naik. Pasokan kemasan juga jauh membaik dibandingkan 1Q26, meski harganya masih tinggi. Namun demikian, tekanan belum sepenuhnya mereda, mengingat 1) Rupiah yang masih volatil, 2) harga bahan baku susu yang masih naik, serta 3) ruang kenaikan harga yang terbatas, dimana kenaikan ASP yang signifikan hanya terjadi di segmen consumer health (~3â??5%) dengan dampak <0,5% terhadap total bisnis. Sementara segmen lain, kenaikan ASP relatif selektif. Di sisi lain, marjin operasi 3Q26 turun ke 10,3% (2Q26: 11,9%) seiring kenaikan opex utamanya pada biaya marketing, meski secara tahunan masih dijaga dilevel yang manageable. Perlu dicermati juga inventory days yang tinggi di level 121 hari, karena Perseroan sengaja menambah stok sejak awal tahun untuk mengantisipasi gangguan supply chain global akibat konflik Timur Tengah.
Strategy dan prospek: Manajemen memperkirakan kinerja FY26 akan sejalan dengan capaian 9M26, yakni pertumbuhan topline double digit dan laba bersih yang tetap tumbuh positif, dengan run-rate 3Q26 diperkirakan berlanjut ke 4Q26. Dari sisi segmen, nutrisi ditargetkan tumbuh positif di FY26 (9M26: +4% YoY) dan mid single digit di 2027F, didukung kategori lifestyle (tumbuh double digit), sementara pertumbuhan distribusi diperkirakan termoderasi seiring kontribusi prinsipal baru (Bayer). Adapun berkaitan dengan tekanan marjin, Perseroan akan fokus 1) kenaikan harga secara selektif, terutama di segmen consumer health serta produk dengan pangsa pasar kuat (mis. Hydro Coco), 2) manajemen portofolio yang lebih granular per produk dan per channel, serta 3) pengembangan portofolio specialty (insulin, GLP-1 dan biologics) melalui manufaktur lokal sebagai penopang marjin jangka panjang. Namun demikian, manajemen menilai pelemahan Rupiah masih menjadi risiko utama di 2027F. Sebagai informasi, risiko nilai tukar memburuk, dimana 1% pelemahan Rupiah akan berdampak ke penurunan laba sebelum pajak sebesar -Rp22,7 miliar di 9M26 (9M25: Rp 6 miliar). Dimana tekanan ini direspon melalui kenaikan porsi asset dalam bentuk USD ke USD151,3 juta (9M25: USD60,5 juta). Perseroan mempertahankan kebijakan dividend payout 50â??60%, melanjutkan program buyback Rp500 miliar yang masih berjalan, serta terus menjajaki peluang M&A pada aset farmasi regional, dan jaringan distribusi di Asia Tenggara.
Rekomendasi: mempertahankan BUY untuk KLBF dengan TP ke Rp1.000 (implied PE 12,7x di 2027F) setara dengan -1x std.deviasi, dengan melakukan penyesuaian estimasi laba bersih di 2027F ke level moderat (sebelumnya: melambat low single digit) setelah melihat kinerja 9M26 yang tumbuh positif, lebih baik daripada estimasi pasar. Meski begitu, perlu diantisipasi 1) tekanan nilai tukar, 2) normalisasi segmen distribusi dan 3) makroekonomi.
Full Report: https://pans.id/ResultSnapshotKLBF_3Q26

