Kembali
Result Snapshot: JSMR (HOLD - TP: Rp3.000): EBITDA
Oleh Tim Riset Panin SekuritasPendapatan. JSMR mencatatkan pendapatan sebesar Rp5,3 triliun di 3Q26 (+3,0% QoQ; +8,5% YoY) membawa pendapatan di 9M26 menjadi Rp15,7 triliun (+7,9% YoY) in-line (PANS: 72,9%; Kons: 68,9%; rata-rata 5 tahun: 72,9%). Pendapatan tol naik menjadi Rp14,3 triliun (+6,8% YoY) yang ditopang oleh penyesuaian tarif yang diterapkan pada tahun 2025 dan didorong oleh peningkatan traffic di tol baru
Volume traffic Secara keseluruhan, pertumbuhan traffic tol JSMR masih ditopang oleh tol baru yang tercatat sebesar 164,9 juta kendaraan melintas (+14,1% YoY). Sementara itu, tol perseroan yang mature seperti Jagorawi, Jakarta-Cikampek, Jakarta- Tangerang, dan beberapa ruas tol lainnya tumbuh +1,2% YoY di level 816,5 juta kendaraan. Sehingga mendorong traffic keseluruhan JSMR tumbuh menjadi 981,4 juta kendaraan di 9M26 (+6,0% YoY).
Adjustment tariff: JSMR di tahun 2026 baru menaikkan tarif di 4 ruas jalan tol di hingga 9M26 (target 10 ruas) namun target ini pun direvisi turun dari sebelumnya perseroan merencanakan menaikkan 20 tarif ruas jalan tol, karena beberapa ruas tol masih dalam pemenuhan SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang dalam beberapa tahun terakhir cukup ketat untuk pengajuannya. Sehingga tertunda nya kenaikan tarif dapat berdampak di tahun depan yang hanya mengandalkan dari kenaikan traffic.
EBITDA. JSMR mencatatkan EBITDA sebesar Rp3,5 triliun (-2,6% QoQ; +7,7% YoY) membawa EBITDA sepanjang 9M26 menjadi Rp10,5 triliun (+7,9% YoY) berada diatas estimasi kami dan konsensus (PANS: 80,9%; Kons: 78,0%; rata-rata 5 tahun: 71,1%) dengan perseroan berhasil menjaga EBITDA margin ke level 67,0% (9M25: 67,0%) seiring peningkatan top line dan pertumbuhan cost yang lebih rendah dibandingkan pendapatan.
Laba bersih turun. Namun kinerja positif ini tidak diikuti oleh laba bersih JSMR yang turun menjadi Rp749 miliar di 3Q26 (-34,0% QoQ; -12,6% YoY) membawa laba bersih 9M26 menjadi Rp2,6 triliun (-2,6% YoY) in-line dengan estimasi kami namun berada diatas konsensus (PANS: 63,9%; Kons: 73,6%; rata-rata 5 tahun: 64,9%). Penurunan laba bersih disebabkan oleh beban pajak yang lebih tinggi di tingkat anak usaha menyusul pengakuan laba yang membawa beban pajak JSMR menjadi Rp1,3 triliun (+11,9% YoY). Selain itu, beban keuangan meningkat menjadi Rp2,8 triliun (+3,4% YoY).
Update pengambilalihan tol BUMN Karya. Manajemen mengatakan saat ini masih proses due diligence terkait rencana pengambilalihan tol BUMN karya, untuk saat ini perseroan tertarik untuk memiliki ruas tol karya yang berada di Pulau Jawa dan setidaknya ruas tol yang menyambung dengan ruas tol eksisting milik JSMR. Sementara untuk ruas tol diluar Pulau Jawa belum menjadi concern perseroan. Disisi lain, perseroan belum menyebutkan ruas tol mana yang akan diambil alih, namun di targetkan aksi tersebut dapat selesai di akhir tahun ini atau jika proses cukup memakan waktu dapat bergeser ke tahun depan.
Rekomendasi HOLD dengan target harga Rp3.000 (implied EV/EBITDA: 9,3x di 2027F). Beberapa hal yang perlu dicermati: (1) peningkatan traffic ruas jalan tol baru akan menopang pertumbuhan, namun patut dicermati: (2) pengoperasian beberapa jalan tol baru yang mundur dari target, (3) ketidakpastian peningkatan tarif tol baru, (4) suku bunga yang tinggi, serta (5) efek jangka panjang akibat adanya moda transportasi umum seperti kereta cepat, MRT, dan LRT yang akan menjadi downside risk untuk pengelola jalan tol.
Full report:
https://pans.id/ResultSnapshotJSMR_3Q26

