Result Update 9M26: CPIN (BUY - TP: Rp3.500): Fea
Oleh Tim Riset Panin SekuritasCPIN membukukan kinerja yang solid, dengan membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun (+28% QoQ; +1% YoY) membawa laba bersih 9M26 mencapai Rp5,2 triliun (+54% YoY) in-line (PANS: 78,2%; Cons: 80,4%). Pertumbuhan ini melebihi guidance Manajemen di kisaran 5% YoY untuk FY2026 (CAGR 5Y: +8%). Pertumbuhan kinerja diatribusikan oleh kinerja positif segmen broiler dan DOC yang mencatat laba operasional sebesar Rp2,9 triliun (+13% YoY) dan Rp508 miliar (+774% YoY). Kami merevisi estimasi pendapatan/laba bersih CPIN di level moderat dan melakukan roll-over ke tahun 2027. Kami masih merekomendasikan BUY dengan menurunkan target harga ke Rp3.500 (implied PE 7,9x di 2027F) setara dengan -1,5x std.deviasi PE 3 tahun terakhir.
Kinerja 9M26: Solid, ditopang pemulihan harga ayam. CPIN membukukan pendapatan sebesar Rp20,8 triliun di 3Q26 (+7% QoQ; +19% YoY), dengan pendapatan 9M26 mencapai Rp60,2 triliun (+19% YoY) in-line (PANS: 74,6%; Cons: 76,5%; rata-rata pasar 5 tahun: 74,2%) seiring dengan pertumbuhan positif pada seluruh segmen bisnis, utamanya farm (+12% YoY) dan feed (+44% YoY) yang dipengaruhi oleh perbaikan harga ayam dan kenaikan ASP untuk feed. Kemudian dari sisi cost, COGS tumbuh +1,4% QoQ; +21% YoY, akibat kenaikan harga bahan baku, sehingga GPM turun ke 17,2% (3Q25: 19,1%). Selain itu, biaya operasional juga meningkat di 3Q26 (+11% YoY), membawa rasio opex/rev naik 40bps ke level 6,9% dan relatif manageable di level 6,2% pada periode 9M26 (9M25: 6,8%). Adapun kenaikan biaya keuangan (+47% YoY) di 3Q26 turun membatasi pertumbuhan laba bersih secara tahunan di 3Q26 (+1% YoY). CPIN membukukan laba bersih sebesar Rp5,2 triliun (+54% YoY) in-line (PANS: 78,2%; Cons: 80,4%; rata-rata pasar 5 tahun: 84,5%). Perlu dicermati bahwa pertumbuhan kuat kinerja secara kuartalan mayoritas ditopang oleh pemulihan harga ayam di 3Q26, setelah turun dalam pada 2Q26.
Margin bisnis farm menguat, namun bisnis pakan tertekan. Harga broiler dan DOC membaik di 3Q26, di mana rerata harga broiler mencapai Rp22.197/kg (+19% QoQ; +11% YoY) dan DOC Rp6.707/ekor (+35% QoQ; +13% YoY), ditengah membaiknya permintaan serta adanya himbauan dari Pemerintah yang menargetkan harga LB minimum di tk.peternak dijaga di Rp19,5 ribu/kg sejak Jul-26. Pemulihan harga ayam membawa laba operasional segmen broiler dan DOC positif di 3Q26, masing-masing sebesar Rp1,2 triliun (+1831% QoQ; +23% YoY) dan Rp213 miliar (2Q26: -Rp96 miliar; +23% YoY), dimana cost LB CPIN saat ini berada di Rp19.500/kg (sebelumnya: Rp18 ribu/kg), akibat kenaikan biaya feed. Dimana marjin operasional segmen feed turun ke 12,5% (2Q26: 17,1%; 3Q26: 17,4%), akibat kenaikan raw materials (Jagung: +5% YoY; SBM: +24% YoY), ditengah ASP feed yang telah naik 7% QoQ dan 12% YoY di 9M26, namun tidak secepat kenaikan biaya pakan (+10% QoQ) yang sudah termasuk dengan pembelian SBM melalui Berdikari. Meski begitu, tekanan marjin segmen feed masih mampu dikompensasi oleh pemulihan harga ayam. Perbaikan harga akan berlanjut ditopang oleh demand seasonality di 4Q26/1Q27 dan juga pengendalian supply, melalui surat himbauan dari Kementan, yakni pengendalian produksi DOC FS broiler sebanyak 10 â?? 17% di setiap minggu, sejak 19 Oktober 2026.
Kebutuhan modal kerja meningkat seiring strategi penimbunan bahan baku. Perlu dicermati Kenaikan harga jagung dan SBM (+5% QoQ; +24% YoY) di tengah ancaman El-Nino mendorong Perseroan memperbesar stok sejak 1H26. Alhasil, persediaan melonjak menjadi Rp17,8 triliun di 9M26 (+56% YTD; +85% YoY), dengan days inventory mencapai 97 hari (rata-rata historis: 60â??75 hari), mendorong CCC memanjang ke 83 hari (9M25: 65 hari; FY23â??FY25: 58â??66 hari). Kebutuhan pendanaan pun meningkat: total utang berbunga naik ke Rp11,6 triliun (+59% YoY), dengan pinjaman bank jangka pendek mencapai Rp6,0 triliun (9M25: Rp4,3 triliun). Meski demikian, kami menilai risiko likuiditas masih terkendali, mengingat: 1) kenaikan utang terutama dialokasikan untuk modal kerja, bukan ekspansi aset tetap, 2) beban bunga 9M26 relatif stabil di Rp435 miliar (9M25: Rp430 miliar) dan 3) refinancing utang bank jangka pendek ke tenor lebih panjang ditargetkan rampung pada Nov-26, tanpa rencana penerbitan obligasi. Ke depan, kami memperkirakan modal kerja mulai normal di 2027F seiring panen raya di 1H27.
Pelemahan harga saham lebih disebabkan oleh sentimen sell-off. Saham CPIN telah terkoreksi 48% YTD, sejalan dengan net foreign outflow sebesar Rp7,4 triliun YTD. Kami melihat 2 sentimen utama di balik tekanan tersebut: 1) index overhang sejak akhir Jan-26, ketika MSCI mengumumkan pembekuan (freeze) terhadap indeks Indonesia (JCI), yang kemudian berkembang menjadi risiko penurunan status pasar hingga Standalone; di saat yang sama, MSCI juga memindahkan CPIN dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index; serta 2) eskalasi tensi geopolitik yang menaikkan premi risiko, terutama dari ketidakpastian makroekonomi. Perlu dicermati, dari 38% free float CPIN, Foreign mendominasi ~81% di Oct-26 (Jan-26: ~87%), sehingga keputusan MSCI sangat sensitif terhadap share price Perseroan. Lalu, apakah saham ini sudah oversold? Menurut kami belum sepenuhnya. Dalam skenario terburuk, yakni apabila JCI diturunkan ke status Standalone, dengan mengambil porsi MF+PF maka estimasi outflow ~Rp2,2-2,4 triliun atau ~16-17% dari total kepemilikan asing.
Mempertahankan rekomendasi BUY dengan menurunkan target harga ke Rp3.500 implied PE 7,9x setara dengan -1,5x std.deviasi PE 3 tahun terakhir dari sebelumnya di harga Rp5.000, dengan penyesuaian ekspektasi pendapatan/laba bersih di level moderat ~5-8% (CAGR 5Y: 8-11%) dan melakukan roll-over ke tahun 2027. Menurut kami, Valuasi saat ini mencerminkan kondisi yang lebih terdiskon, dengan P/E yang telah terkompresi dari 22x ke 11x, mengindikasikan ruang rerating valuasi terbuka di tengah fundamental yang solid. Kami melihat kinerja perusahaan akan didorong oleh: 1) kestabilan harga ayam ditengah perbaikan struktural secara bertahap dan 2) rnormalisasi biaya pakan yang menopang perbaikan marjin. Meski demikian, perlu dicermati downside risk yakni: 1) indeks overhang, karena porsi foreign yang mendominasi, 2) kenaikan biaya hutang, 3) tantangan daya beli dan 4) pelemahan nilai tukar Rupiah.
Full Report: https://pans.id/ResultUpdateCPIN_3Q26

