Economic Update - INDOGB: The Yield Curveâ??s Warn
Oleh Tim Riset Panin SekuritasYield SBN 10-Yr telah menyentuh level 7,7%, tertinggi sejak 2020. Repricing ini terpusat pada kenaikan sovereign risk premium dan juga relative risk premium dari peers. Risiko fiskal dan external buffer menjelaskan bertahannya tekanan premi risiko SBN meski inflasi domestik masih relatif terkendali. Harga minyak yang tinggi menekan neraca dagang sekaligus memperbesar beban subsidi-kompensasi APBN, sehingga menggerus buffer eksternal dan fiskal secara bersamaan. Di sisi lain, short-end yield masih relatif ter-anchor oleh fase hold BI Rate dan penurunan yield SRBI. Dominasi basis kepemilikan domestik serta tren historis aksi beli pada yield tinggi dapat menjadi bantalan, meski kondisi likuiditas terkini berpotensi membatasi tambahan pembelian SBN secara masif. Ke depannya, kurva SBN berpotensi flattened kembali seiring siklus pengetatan moneter BI diprakirakan tetap lanjut, dengan premi risiko SBN yang masih berpotensi meningkat.
Kenaikan yield SBN mencerminkan repricing premi risiko jangka panjang di tengah siklus pengetatan suku bunga jangka pendek. Yield SBN 10-Yr telah menyentuh level 7,7%, tertinggi sejak 2020, dengan repricing yang relatif besar dibandingkan sejumlah peers. Jika mencermati 10Yr-2Yr yield spread yang relatif naik, maka repricing terpusat pada long-end, mengindikasikan persepsi risiko yang relatif tinggi untuk SBN. Kenaikan spread tersebut terjadi di tengah short-end yield ter-anchor oleh BI-Rate yang masih dalam fase hold sejak Jul-26 dan yield SRBI yang relatif turun. Pelebaran spread terhadap yield UST juga mengindikasikan bahwa tekanan juga turut bersumber dari risiko domestik, walaupun ketika inflasi IHK domestik masih relatif terkendali. Lalu, spread dengan corporate bond yang relatif moderat menyiratkan risk repricing yang terpusat pada sovereign factors. Pasar tampaknya pricing-in pelemahan external balance dan tekanan fiskal, serta spillover sentimen MSCI terhadap ketidakpastian foreign capital flow dan Rupiah.
Risiko fiskal dan external buffer menjelaskan bertahannya tekanan premi risiko SBN meski inflasi terkendali. Harga minyak yang tinggi dengan rerata ICP sebesar USD93,8/barel YtD (+34% dari asumsi APBN 2026) menekan neraca dagang sekaligus memperbesar beban subsidi-kompensasi APBN, sehingga menggerus buffer eksternal dan fiskal secara bersamaan. Pada APBN, tekanan tersebut beriringan dengan tingginya beban bunga yang membatasi fleksibilitas belanja (Figure 9). Konsentrasi jatuh tempo utang pada 2026â??2027 turut meningkatkan kebutuhan refinancing ketika yield telah naik, sehingga berpotensi mengerek beban bunga utang dan eventually mendorong yield SBN (Figure 10). Perlu dicermati juga bahwa headline deficit memang terlihat terkendali di level -1,24% PDB per Sep-26, namun belum sepenuhnya mencerminkan tekanan pada aspek fiscal affordability. Dari sisi eksternal, pelebaran current account deficit meningkatkan kebutuhan pendanaan asing ketika sentimen MSCI membayangi kesinambungan foreign capital inflow. Cadangan devisa masih menjadi bantalan, tetapi meningkatnya liabilitas jangka pendek membatasi kapasitas cadev untuk kebutuhan intervensi valas BI dalam menjaga stabilitas Rupiah.
Short-end yield masih relatif ter-anchor oleh fase hold BI Rate dan penurunan yield SRBI. BI Rate yang masih di 5,75% sejak Jul-26 serta yield SRBI yang relatif turun membatasi repricing tenor pendek, berbeda dengan long-end yang lebih banyak menyerap kenaikan premi risiko fiskal-eksternal. Inflasi IHK yang masih relatif terkendali turut menjadi anchor bagi short-end, walau tekanan dari sisi produsen berisiko merembet ke harga tingkat konsumen (Grafik 13). Fase hold rate ini mencerminkan bauran kebijakan BI yang tetap menyeimbangkan pro-growth dan pro-stability, dengan penyesuaian instrumen non-suku bunga untuk menjaga Rupiah sembari mempertahankan kecukupan likuiditas perbankan domestik imbas pengetatan terkini seiring tren kenaikan LDR perbankan imbas pertumbuhan kredit (+13,26% YoY per Sep-26) yang lebih besar dari pertumbuhan DPK (+8,22% YoY per Sep-26).
Daya serap domestik menjadi penahan volatilitas, tetapi potensi aksi belinya masih relatif terbatas. Dominasi basis kepemilikan domestik serta tren historis aksi beli pada yield tinggi dapat menjadi bantalan yang dapat meniadakan skenario sell-off tajam yang mendorong volatilitas yield SBN, meski kondisi likuiditas terkini berpotensi membatasi tambahan pembelian SBN secara masif. Melemahnya permintaan lelang menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan pemerintah berhadapan dengan demand yang lebih selektif (Grafik 11). Tekanan likuiditas yang tercermin dri tren kenaikan LDR perbankan serta dorongan penyaluran kredit untuk menopang investasi domestik berpotensi membatasi ruang bank (sebagai lead domestic buyer) menambah SBN, meski kapasitas secara agregat tetap bergantung pada posisi likuiditas masing-masing pelaku pasar
Kurva SBN berpotensi flatten, dengan premi risiko tenor panjang masih berpotensi meningkat. Short-end yang kini relatif ter-anchor kami perkirakan kembali naik melalui kenaikan BI Rate dan yield SRBI yang semakin diperlukan untuk menjaga Rupiah seiring kapasitas untuk intervensi valas mulai terbatas. USDIDR yang menembus rekor tertinggi meningkatkan sensitivitas sentimen dan volatilitas terhadap perkembangan global, termasuk perubahan arah konflik ASâ??Iran, fiskal, dan sektor AI pasca-midterm election AS, serta pengetatan moneter ECB-BoJ. Di long-end, tekanan buffer fiskal-eksternal tetap berpotensi mendorong naik premi risiko, tetapi kenaikannya dapat lebih terbatas apabila pasar menilai pendorong eksternalnya temporer dan pro-stability stance BI tetap menjadi anchor. Necessary condition dari domestik mencakup efektivitas sentralisasi ekspor SDA dan mineral via PT DSI yang meningkatkan penerimaan serta devisa ekspor, disertai optimalisasi program prioritas yang dapat memperbaiki APBN sekaligus persepsi pasar.
Full Report: https://pans.id/Economic-Update_Bond-Market_Nov-26

